Instagram

ALI SADIKIN

                   http://ashakuma.files.wordpress.com/2010/09/ali_sadikin_pyo.jpg

                   http://2.bp.blogspot.com/__NFoqIpsSz8/SV3IkHoaIbI/AAAAAAAAAHc/9BKVPNO-0Os/s320/Ali_Sadikin_09.jpg

ALI SADIKIN

Oleh : M.Sigit Budi.S


JAKARTA PADA ERA-60’an

Jakarta dibangun dan dikembangkan dengan imaji dan semangat baru. Imaji dan semangat baru yang berbeda dari pemerintahan kota sebelumnya yang berada di tangan pemerintah Hindia Belanda. Kini Jakarta coba dibangun dan dibentuk oleh orang-orang Indonesia sendiri. Dalam usaha membangun dan mengembangkan Jakarta itu, terdapat persilangan imaji antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah pusat dalam hal ini adalah Indonesia yang diwakili oleh Presiden Soekarno sedangkan pemerintah daerah adalah para administrator Kota Jakarta. Walikota atau gubernur Jakarta merupakan kekuatan yang dapat masuk ke dalam lingkaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Walikota Jakarta yang tidak termasuk dalam lingkaran pemerintah pusat adalah Soediro. Ia merupakan walikota Jakarta ketiga yang menggantikan walikota Jakarta kedua, Sjamsuridjal, yang juga tidak termasuk dalam lingkaran pemerintah pusat. Soediro bersilang pendapat dengan pemerintah pusat yang memiliki wewenang jauh dalam membangun dan mengembangkan Jakarta. Jakarta mulai dibangun dan dikembangkan melalui imaji dan semangat dari Soekarno. Jakarta coba dijadikan sebagai mercusuar Indonesia dengan proyek-proyek ambisius Soekarno. Lebih dari itu, Soekarno juga menghendaki Jakarta menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Oleh karena itu, segala hal yang mengingatkan orang pada masa kolonialisme Belanda dihapus oleh Soekarno.

Gubernur yang memimpin Jakarta pada era tahun 60-an adalah Soemarno Sastroatmodjo (1960-1964) dan Henk Ngantung (1964-1965). Dua gubernur ini dapat dimasukkan ke dalam lingkaran pemerintah pusat karena sikap dan pandangan mereka yang sejalan dengan Soekarno. Pada masa dua gubernur inilah proyek-proyek seperti Jakarta By-Pass, Hotel Indonesia, Asian Games, Wisma Nusantara, dan Jalan Thamrin dimulai[1].

Dari proyek-proyek itu dapat dilihat bagaimana Presiden Soekarno mempunyai bayangan akan Jakarta yang indah dan maju. Jakarta yang ditujukan kepada tamu-tamu asing yang akan melihat keindahan dan kemajuan Jakarta dari atas; dari sebuah jendela hotel dan pesawat terbang. Hal ini karena keindahan dan kemajuan Jakarta itu baru tampak apabila seseorang melihatnya dari jauh, bukan dari dekat. Jakarta indah dilihat dari jauh, namun terdapat catat yang tidak dapat ditutupi jika orang melihatnya dari dekat. Permukiman liar dan kumuh adalah salah satu cacat tersebut. Masalah ini merupakan masalah yang tidak dapat ditangani oleh Soekarno ketika mencoba membangun Jakarta dengan imajinya. Permukiman liar sebagai perusak keindahan Jakarta telah coba dihilangkan Soekarno, yang merupakan pecinta keindahan. Akan tetapi, ia gagal. Ia hanya berhasil menutupi cacat itu tanpa berusaha menghilangkannya.

Pengaruh Soekarno yang kuat dalam menentukan kemana Jakarta akan menuju dapat dilihat dari perannya dalam menunjuk gubernur Jakarta. DPRD tidak menjadi pihak yang menentukan dalam pengangkatan gubernur. Soekarno dengan pengaruh besarnya mengangkat gubernur yang sejalan dengan visinya terhadap Jakarta.

ALI SADIKIN SEBAGAI GUBERNUR DKI JAKARTA

Letnan Jenderal TNI KKO AL (Purn) H Ali Sadikin  (Bang Ali), putera bangsa kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Gubernur Jakarta di Usianya yang baru 39 tahun. Presiden Soekarno melihat sosok Ali Sadikin sebagai pribadi pemimpin yang mempunyai watak disiplin dan keras, hal tersebut berkaitan dengan kondisi Ibu Kota yang tidak teratur dan sangat memerlukan kedisiplinan. Ali Sadikin sebelum menjabat menjadi Gubernur Jakarta, memegang beberapa jabatan seperti Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, dan sebagai Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan[2].

Mantan Jenderal Angkatan Laut ini akan siap menerima tantangan untuk menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta periode tahun 1966-1977. Ali Sadikin mencoba membangun Jakarta sebagai ibukota Indonesia, yang pada saat itu tidak mencerminkan sebagai ibukota negara yang modern. Presiden Soekarno juga yang pada saat itu ingin menciptakan Jakarta menjadi seperti itu. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal-hal yang menjadikan negara sangat terpuruk. Di antaranya adalah gejolak politik yang belum stabil (setelah gagalnya pemberontakan G30S/PKI) turut mempengaruhi permasalahan kota Jakarta.

  Pada saat menerima tugas sebagai gubernur pada 1966, inflasi mencapai 600 persen. Sarana pendidikan, kesehatan, pasar, dan tempat ibadah jumlahnya tidak mencukupi untuk melayani masyarakat Jakarta. Sedangkan anggaran yang ada hanya Rp 66 juta untuk memperbaiki Jakarta[3].  Hal tersebut tidak membuat beliau patah hati, terbukti Ali Sadikin mampu menyulap Jakarta dari sekadar sebagai pusat pemerintahan menjadi pusat perdagangan sekaligus industri. Sikap keras orang Sumedang, Jawa Barat ini bukan cuma ditujukan kepada aparatnya yang tidak berdisiplin, namun untuk semua masyarakat Jakarta.

            Ali Sadikin menjabat Gubernur DKI Jakarta sampai dua periode (1966-1977). Ketika memimpin Jakarta selama sepuluh tahun, ia juga dikenal kuat dalam mempertahankan prinsip. Ia membuat kontroversi dengan melegalisasikan perjudian, bar, klub malam dan panti pijat. Untuk apa Ali Sadikin melakukan itu semua? Untuk mengisi pundi-pundi anggaran daerah. Bagi Ali Sadikin yang terpenting baginya adalah, adanya dana untuk membuat mulus jalan-jalan di seluruh Jakarta, membangun fasilitas sekolah, membangun sarana prasarana untuk masyarakat, dan beberapa pembangunan yang dikerjakan guna menjadikan Jakarta sebagai Ibukota yang moderen.

            Pada saat pertama kali menjabat, Ali Sadikin membuat rencana program untuk pembangunan Jakarta yang pada saat itu dibutuhkan biaya yang banyak untuk melakukan pembangun demi kesejahteraan masyarakat. Anggaran Jakarta yang tersedia pun hanya Rp 66 juta, sementara jumlah penduduk sekitar 3,4 juta jiwa. Tugas yang beliau emban memang sangatlah berat, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi beliau, hingga akhirnya mengatur strategi-strategi guna menutupi kekurangan dari itu semua.

Ali Sadikin mencermati perilaku kehidupan masyarakat di Jakarta, didalamnya memang terdapat beberapa suku dan ras yang berbeda, bahkan terdapat golongan kaum-kaum pendatang. Ada golongan orang asing, dan etnis cina di sana. Masing-masing golongan mempunyai kecenderungan dan gaya hidup yang berbeda-beda. Seperti etnis Cina yang mempunyai kebiasaan berjudi, dan orang-orang asing yang berasal dari Eropa ataupun Amerika yang tinggal di Jakarta untuk keperluan tinggal maupun bekerja.

Mereka memang sangat menyukai tempat-tempat hiburan malam, yang biasa mereka kunjungi setelah beraktifitas sehari-hari. Kemudian muncullah kebijakan yang beliau buat, yang berkaitan dengan hal tersebut tadi. Mengenai ijin perjudian memang tidak terlepas dari minimnya anggaran Pemda dalam upaya membangun Jakarta. Selain perjudian, Ali Sadikin juga membuka tempat hiburan dan melegalisasi pelacuran di daerah Kramat Tunggak. Upaya itu sebagai bagian dari melayani masyarakat, karena itu ia berani membuka tempat perjudian, steam bath, dan klub-klub malam, yang diutamakan untuk orang asing. Pembukaan klub-klub itu dilakukan untuk melayani masyarakat di dalam kelompok ini.

            Di bidang kebudayaan dan pariwisata dia menggagas tradisi penyelenggaraan pesta rakyat tahunan dalam rangka menyambut hari jadi kota Jakarta setiap tanggal 22 Juni melalui Pekan Raya Jakarta. Pemilihan Abang dan None Jakarta untuk pertama kali juga dirintis sejak zaman Ali Sadikin. Khusus untuk mengembangkan kebudayaan Betawi dengan berbagai cara, Bang Ali berhasil membangun cagar budaya Betawi di Condet, Jakarta Timur[4].

Ali Sadikin termasuk salah seorang penggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah bersama dengan Mendiang Ibu Tien Soeharto. Beberapa bangunan yang lain pun turut memperlengkap Jakarta seperti, Taman Ismail Marzuki yang dibangun untuk mengenang komposer Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol yang merupakan ide dari Presiden Soekarno, Pekan Raya Jakarta, Gelanggang Mahasiswa, Gelanggang Remaja, Pusat Perfilman Usmar Ismail serta berbagai bangunan bersejarah seperti Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik, dan Museum Wayang.

Ali Sadikin adalah Gubernur DKI Jakarta ke-7, menggantikan Gubernur sebelumnya Soemarmo[5]. Ali Sadikin menjabat Gubernur DKI Jakarta selama 2 periode, terhitung sejak tahun 1966-1977, dan pada akhir masa jabatannya tahun 1977 dia meninggalkan uang di kas daerah sebesar Rp 89,5 miliar. Tak hanya kas negara, begitu juga dengan jalan-jalan yang mulus, penambahan ratusan sarana pendidikan dan kesehatan, terminal bus, pasar tradisional hingga pertokoan yang moderen, dan beberapa bangunan utama yang dapat dinikmati sekaligus sebagai simbol kota Jakarta pada saat itu hingga kini.

KONTROVERSI PEMIKIRAN ALI SADIKIN UNTUK JAKARTA    

Seperti banyak yang diceritakan di dalam buku Memoar Ali Sadikin oleh Ramdhan K.A, bahwa terlihat perjalanan ketika Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur memang mengalami banyak masalah, termasuk pada kas negara itu sendiri. Presiden Soekarno memang menginginkan Jakarta menjadi berkembang dalam hal pembangunan, namun hal itu bertabrakan dengan kenyataan yang ada pada saat itu. Dalam buku Tantangan Nusantara ada semboyan Ali Sadikin yang sangat menggambarkan Jakarta pada waktu itu, Jakarta Adalah Kota Tantangan.

Dimulai dari mengisi kembali uang kas negara yang hanya 66 juta, agar dapat terus bertambah dan akan digunakan untuk membangun sarana dan infrastruktur negara. Strategi-strategi kemudian dibuat oleh Ali Sadikin guna menutupi itu semua. Ali Sadikin memulai dengan mencari tahu keadaan-keadaan di Jakarta guna mencari sumber-sumber keuangan, dan hal pertama yang mengejutkan beliau adalah mengenai perjudian. Tempat-tempat perjudian seperti lotere, lotto, dan judi hwa-hwe, yang marak sekali oleh para golongan etnis Cina yang memang menggemari hal tersebut. Perjudian memang ada hukumnya, dan bahkan sudah tertulis undang-undangnya. Undang-undang No. 11 tahun 1957 yang memungkinkan Pemerintah Daerah memungut pajak atas izin perjudian (Ramadhan K.H, 1993: 63).

Perjudian memang diatur hanya untuk kalangan tertentu saja, ketika Ali Sadikin melihat banyak orang Cina yang pergi ke Macau hanya untuk berjudi dan menghambur-hamburkan uang mereka di sana, lebih baik uang-uang tersebut dihamburkan di tempat perjudian di Jakarta. Pemerintah pun dapat memungut pajaknya dari bandar-bandar Cina setempat. Terbukti hasil pajak dari tempat perjudian memang besar dan dapat langsung dialokasikan untuk pembangunan jalan dan sekolah-sekolah di Jakarta. Walau dinilai berhasil, tetap saja hal tersebut menuai pro kontra dan kontroversi dari pihak ulama-ulama.

Namun Ali Sadikin kembali meyakinkan mereka mengenai hal tersebut dengan penjelasan sebagai berikut:

“… Karena pajak dari sana dipakai untuk pembiayaan pembangunan, pembangunan di bidang pendidikan, di bidang social, di bidang sarana, dan di pelbagai macam bidang, sampai-sampai di bidang pembangunan mental dan kerohanian. Dan bukan untuk pembiayaan rutin. Dengan uang itu Pemerintah DKI bias membangun gedung-gedung sekolah dasar yang pada waktu itu sangat dirasakan kurang, perbaikan dan pemeliharaan jalan, pembangunan dan fasilitas perkotaan, fasilitas kebudayaan, dan lain-lain[6]..”

 

Ali Sadikin memang sadar akan semua tindakan yang ia lakukan terhadap Jakarta pasti tidak akan dapat diterima oleh semua pihak, namun konsekuensi itu telah siap beliau hadapi dengan alasan tepat yang tak lain untuk kemajuan Jakarta itu sendiri. Salah satunya adalah dengan menertibkan daerah pelacuran atau prostitusi yang terlihat mencolok. Terletak di antara kawasan Senen dan sepanjang Kramat Raya. Ali Sadikin menyaksikan sendiri betapa para wanita-wanita prostitusi itu berkeliaran di tempat ramai dan terbuka. Ali Sadikin begitu ngilu menyaksikan para wanita-wanita yang di antaranya pun terdapat anak-anak kecil di bawah umur. Bahkan ada pula yang disebut dengan “becak komplit”, dikarenakan kendaraan roda tiga itu membawa keliling wanita prostitusi tersebut[7].

Ali Sadikin akhirnya mengambil inisiatif untuk mentertibkan kawasan tersebut ke satu tempat saja. Terinspirasi sewaktu beliau bertugas ke Bangkok yang terkenal dengan “industri sex”-nya[8]. Terpilihlah daerah Kramat Tunggak yang saat itu masih berupa rawa-rawa, yang kemudian akan dibangun sebuah komplek untuk para wanita-wanita prostitusi itu untuk tinggal dan bekerja di sana. Pro dan kontra pun timbul kembali dikarenakan hal tersebut, namun Ali Sadikin tetap ingin melokalisasikan mereka agar pemandangan yang kurang sedap di tepi-tepi jalan Senen dan Kramat Raya akan segera menghilang.

Persoalan kota memang tidak luput dari permasalahan-permasalahan yang ada, salah satunya adalah anak jalanan. Sebuah pemandangan yang tidak mengenakkan beliau ketika melewati jalan-jalan ibukota, dan terdapatlah disana anak-anak yang seharusnya bersekolah namun sibuk mencari nafkah dan bermain saja. Masalah-masalah tersebut timbul berkaitan dengan kemiskinan dan fasilitas gedung sekolah yang sangat minim.

Semua itu menyangkut uang, menyangkut biaya. Tolol saya kalau saya membiarkan anak-anak yang masih patut sekolah dibiarkan keluyuran. Sebab itu saya mencari duit. Uang dari Lotto Jaya yang dimulai sejak April 19 sudah saya pakai untuk mengatasi soal pendidikan. Saya ingat, waktu itu terkumpul Rp. 2 juta. Besar artinya waktu itu. Dan segera saya pakai untuk membangun sekolah. Lima buah gedung SD biasa dibangun. Dan rakyat Jakarta menyaksikan hal itu[9].

 

Rentang tahun antara 1967 – 1969, terus dibangun dan merehabilitasi bangunan sekolah-sekolah, baik lanjutan maupun kejuruan. Ali Sadikin selalu mengedepankan permasalahan pendidikan di setiap kali beliau sempat untuk angkat bicara, terhadap masyarakat, pemerintah pusat sendiri, yayasan-yayasan, hingga pengusaha-pengusaha agar mau memberi bantuan. Pertambahan urbanisasi penduduk pun membuat masalah tersebut tidak pernah tuntas, untuk mengatasi hambatan tersebut Ali Sadikin  mengusahakan beberapa cara, salah satunya adalah dengan membatasi penerimaan murid untuk kelas 1 SD yang harus berumur 7 tahun, atau umur 6 tahun dan telah 2 tahun mendapat pendidikan di Taman Kanak-kanak[10]. Ali Sadikin pun membuat perpustakaan di tempat-tempat terpencil khususnya untuk anak-anak yang tidak sanggup untuk bersekolah, agar tetap dapat mengetahui informasi dari buku-buku yang ada. Program tersebut menjadi salah satu unggulan dari Proyek Husni Thamrin.

Proyek Mohammad Husni Thamrin (MHT) atau yang dikenal sebagai Kampung Improvement Program, adalah sebuah program dari Ali Sadikin  tentang perbaikan kampung. Harapan beliau ingin melihat kampung-kampung yang kumuh di Jakarta agar dapat terlihat asri kembali atau minimal layak untuk dihuni. Program tersebut mempunyai sebutan awal sebagai Program Perbaikan Kampung, kemudian dimasukkan kedalam proyek vital di lingkungan DKI.. Dimulai dengan memperbaiki jalan, penambahan fasilitas MCK, Puskesmas, bak-bak sampah dan sarana keamanan kampung. Ali Sadikin memacu kepada warga yang tinggal di kampung-kampung kumuh tersebut untuk sadar bernegara dan bermasyarakat, serta dapat bergotong-royong agar program ini dapat berjalan dengan lancar.

Pada suatu ketika datanglah Kenneth Wats, Kepala Seksi Kerja Sama Teknik dan Pusat Perencanaan Pembangunan PBB di Jakarta, yang terkesan oleh pelaksanaan program tersebut. Bank Dunia pun melihat keuntungan dari program tersebut, dan berniat untuk membantu dalam melaksanakan proyek perbaikan kampung[11].Keberhasilannya program MHT juga telah ditiru beberapa kota di Indonesia dan diadopsi oleh Bank Dunia serta menjadi salah satu inisiatif yang menjadi teladan di seluruh dunia. Ali Sadikin  dalam hal ini tetap berpihak kepada kalangan miskin kota.

Kota tidak serta merta hanya terdiri dari gedung-gedung megah dan tinggi yang menjulang, jalan-jalan yang tersusun diantaranya, yang dilewati oleh penuh sesaknya kendaraan. Sarana penghijauan pun turut hadir guna menyeimbangkan di dalam area sebuah kota. Eropa 40% dari wilayah kota harus ada penghijauan, di Tiongkok 70% pun harus ada penghijauan, bagaimana dengan Jakarta? Tempat Pemakaman Umum pun menjadi salah satu permasalahan di Jakarta. Dikarenakan area makam yang sudah semakin menyempit, dan setiap harinya ada kematian dari penduduk Jakarta.

Timbulah ide sewaktu Ali Sadikin berkunjung ke Manila, ke sebuah kuburan. Bahwasanya disana untuk orang-orang yang sangat Agamais memang dikubur, namun kebanyakan di bakar jenazahnya, untuk mengirit tempat halaman kuburan.[12]. Setibanya Ali Sadikin tiba di Jakarta, mulai mempertanyakan harga tanah di Jakarta yang semakin melonjak, sembari berdiskusi dengan para ulama mengenai tanah makam yang dapat dimanfaatkan sebenarnya secara maksimal. Ali Sadikin  mempertanyakan perihal mengenai ukuran makam yang tidak sesuai sebagai sebuah makam. Kenapa terdapat area pekuburan yang mewah dan luas dibanding dengan area pekuburan yang sebagaimana mestinya berukuran untuk satu jasad.

Ali Sadikin membuat konsep kuburan tumpang tindih, apabila ada satu keluarga yang lebih dahulu meninggal, dan setelahnya ada keluarga lainnya yang menyusul, langsung dapat dimakamkan di atas makam keluarganya terdahulu dan begitu seterusnya. Cara ini dianggap efisien dan mulai dapat diterima oleh masyarakat Jakarta, apalagi sistem kontrak tanah makan sudah mulai sedikit mahal, setidaknya hanya membayar uang kebersihan di TPU masing-masing.

Ali Sadikin memang sangat berperan bagi pembangunan Jakarta. Begitu banyak pengorbanan dan jasa yang beliau berikan terhadap Jakarta, dan terhadap para Gubernur-gubernur pengganti dirinya. Pada usia 86 tahun, Ali Sadikin  meninggal di Rumah Sakit Gleneagles, Singapura, Selasa petang, 20 Mei 2008. Sebuah hari ketika Indonesia sedang memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional. Sepetak tanah di Blok AA 1 TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, menjadi tempat peristirahatan terakhir Ali Sadikin. Dia bersatu lahat dengan istri pertamanya, Nani binti Oeho Adipura, yang meninggal 12 tahun lalu[13]



[3] Ramadhan K.H, Bang Ali Demi Jakarta 1966-1977, (Jakarta: PUSTAKA SINAR HARAPAN,     1993), hlm.25

[4] http://rusdimathari.wordpress.com:2009

[6] Ramadhan K.H, Bang Ali Demi Jakarta 1966-1977, (Jakarta: PUSTAKA SINAR HARAPAN,   1993), hlm. 66

[7] Ramadhan K.H, Bang Ali Demi Jakarta 1966-1977, (Jakarta: PUSTAKA SINAR HARAPAN,   1993), hlm. 205

[8] Ibid., hlm. 206

[9] Ibid..,hlm..93

[10] Ramadhan K.H, Bang Ali Demi Jakarta 1966-1977, (Jakarta: PUSTAKA SINAR HARAPAN,   1993), hlm 97

[11] Ibid., hlm 168

[12] http://www.youtube.com: 2009

[13]  http://www.korantempo.com:2009

*Tulisan ini dibuat sebagai prasyarat Tugas Akhir penulis

Mr. President

.. ZO ZO ZO .. .. ZO ZO ZO .. .. ZO ZO ZO .. .. ZO ZO ZO ..

.. ZO ZO ZO ..

(via givemezooey)

" HAPPY CREATIVE "

svalts:

Megadeth Artwork
Created by Edward Repka
svalts:

Megadeth Artwork
Created by Edward Repka
svalts:

Megadeth Artwork
Created by Edward Repka
svalts:

Megadeth Artwork
Created by Edward Repka

svalts:

Megadeth Artwork

Created by Edward Repka

woooossssssssaaaaaaaahhhhhhhh

sedikit aca ucu dari galeri BERSENI, dimana galeri ini sangat dekat sekali dengan serrum, yaitu di daerah PROKLAMASI dekat salah satu showroom mobil, tapi gw bener-bener nggak tau ada galeri disana :P .. 

perkenalkan dr sebelah kiri : MG - GUNAWAN - PUTRI,

OK, langsung aja disimak cerita gw mendatangi pameran tersebut, gw sampai sekarang juga nggak tau apa itu WOOSSAHH .. tapi gw juga ngk mau tau juga sih .. (simpel fren), .. hahaha

yang penting mah, temen2 gw bisa kumpul2 lagi di satu ajang pameran, dan mereka masih bisa kasi input ke para muda-mudi jakarta bagaimana cara memvisualisasikan sebuah karya dengan karakter masing2 seniman .. 

itu poto POPO di depan LIVE IS NEVER FLAT nya, (padahal mah mukenye doi kadang FLAT juga) .. kalo lo perhatiin di samping POPO juga ada ABI RAMA yang pake kacamata, yang kalo ditanya selalu jawab, OK DEH KALO ITU MAU LO .. maklum anak setan emang gitu ..

ini karya paling MEWAH nih, gawat dah, ada PROJECTOR-nya, yang laen mah cuma kanvas palingan, tapi ini karya dokumentasi milik orang yang paling gondrong di antara partisipan, RHARHARHA .. 

tuh orangnya yg di tengah, di apit sm mba KATHY dan dosen UNTAR yang paling 666, hahaha .. yaitu mas ADIT salah satu pendiri GRAFIS SOSIAL, .. 

kalo lo ke arah belakang, atau mau menuju ke WC, sebelumnya lo akan dihadapi sama karya SARKAS punya JAH IPUL yang sangar,.. tapi malam ini karyanya MANISSSSSSSS BANGETTT .. pake frame kaca minimalis .. anjritttttttttttt ..

ini punya BUJANGAN URBAN, .. jablay adalah orang yang paling baik malem ini, semua seniman di kasih baju sama doi, merk DSKL (sampe sekarang gw masih mikir kepanjangan DSKL itu sendiri apa, suwer..), #buat gw nggak ada baju nih broo .. ??

ini bagian depan meja tamu beserta salah satu APEL yg diri di base, walaupun bukan karya seni, tp manis banget yah, di atas base putih, warna apel nya juga putih, suwer manisss bangettt .. #envy (mau punya :( 

nah sebenarnya ini karya yang paling mahal nih kalo bisa dijual mahhh .. secara semua seniman gambar bareng di sana, terus kalo lo perhatiin ada 2 karakter di tengah milik ROBOWOBO yang jadi ikon pameran woossaahh (ada di posternya kok kalo mau liat detail) .. sama mas ISROL nih, yg baru aja kelar pameran di jogja dan sampe jakarta pameran lagi, ( produktif banget yah ) .. 

sippppppppppp .. ini bukan review kuratorial yah, gw cuma iseng di minggu pagi mau kasih info tentang sebuah pameran yang di selenggarakan sama teman2 seniman .. HAPPY CREATIVE brooooooo .. 

OLEH-OLEH DARI TEMAN SENIMAN

(DOK.TANDAMATA A MERCHANDISE PROJECT @ruru galeri 2012)

OLEH-OLEH DARI TEMAN SENIMAN

Oleh: M. Sigit Budi. S

 

Suvenir dapat berupa benda yang bentuk dan kondisinya beragam. Benda tersebut biasanya dicari seseorang apabila sedang berkunjung ke lokasi tertentu, di sebuah kota maupun negara. Benda-benda tersebutlah yang biasanya dapat merepresentasikan daerah kunjungan. Ketika Anda pergi ke pecinan, yang biasa dijumpai adalah barang-barang yang identik dengan warna merah. Ketika teman saya berkunjung ke Vietnam, suvenir yang saya terima adalah kaos merah bergambar bintang kuning yang sangat mencolok. Kaos tersebut banyak dijual di sana, dan banyak pula wisatawan yang membelinya sebagai oleh-oleh untuk dibagi-bagikan kepada keluarga, teman, atau kolega mereka di negara asalnya.


(dok.P.A.L.U )


Suvenir, yang biasa disebut juga sebagai cinderamata, jelas bukan makanan. Apabila kita berkunjung ke Cirebon, Anda bisa saja membeli aneka jajanan yang berasal dari udang, yang memang dapat Anda beli untuk oleh-oleh. Namun selendang batik bermotif mega mendung umpamanya, sebagai suvenir, tentu akan dapat lebih dikenang sebagai buah pemberian seseorang. Makanan memang enak dan mengenyangkan, namun akan langsung habis begitu dimakan. Ia jadi tidak dapat dikenang, yang ada hanya kenyang.

Lain suvenir, lain merchandise yang berarti barang dagangan. Banyak yang mengira bahwa kedua kata ini mempunyai arti yang sama, sama-sama diperjualbelikan, dan dapat pula menjadi barang pemberian. Sebenarnya untuk merchandise, produk-produk yang diperjual-belikan adalah produk yang ditujukan untuk kepentingan promosi. Sebuah suvenir dapat saja berupa pasir yang diambil gratisan dari pantai Kuta, Bali, tetapi suatu merchandise grup musik yang ternama di Bali tentu harus dibayar dengan harga yang tertera.

(dok.kamengski)

Tak berbeda dengan kelompok musik, para seniman-seniman muda di Jakarta, yang beberapa di antaranya mempunyai latar belakang sebagai pelaku street artist, selain berkarya di medium dan medianya masing-masing, mereka juga membuat merchandise, yang biasa disebut sebagai “artist merchandise”. Produk-produk mereka bisa berupa kaos, stiker, poster, emblem, gantungan kunci, hingga tas.

Merchandise seniman menjadi hal yang menarik karena setiap seniman, grup, maupun komunitas mempunyai model desain merchandise yang unik. Dalam satu jenis aplikasi yang sama seperti kaos saja, desain yang ada bisa sangat beragam dalam jumlah produksi yang terbatas. Pada akhirnya, si merchandise seniman ini pun tak hanya dapat berfungsi sebagai alat promosi, melainkan sebagai sebuah karya seni yang memang layak dimiliki sebagai bentuk koleksi ataupun apresiasi.

( dok. GARDU HOUSE )

Beberapa merchandise seniman yang ada kini sangat mudah ditemukan di berbagai acara kegiatan pameran, musik, diskusi, atau peluncuran buku. Penjualan merchandise ini pun cukup menghibur pengunjung karena biasanya merchandise buatan seniman lebih menarik dan berbeda dibandingkan produk merchandise pada umumnya. Bila mencermati beberapa karya merchandise seniman seperti karya milik Jah Ipul dan Kamengski dari Jakarta, misalnya, Anda akan melihat karya-karya kolase yang berasal dari ilustrasi buku mengenai tafsir mimpi, togel, hingga beberapa majalah dan surat kabar. Gabungan dari beberapa sumber tersebut kemudian digabung dan diacak menjadi sebuah karya kolase yang tak biasa, yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk poster dan kartu pos.

Merchandise seniman bisa berbentuk sebuah karya yang baru atau duplikasi dari karya yang sudah ada. Hal ini tentu berguna untuk promosi karya seorang seniman. Dengan begitu, ia jadi dapat mengaplikasikan karya seninya dalam jumlah yang lebih banyak, dan tentunya dengan harga terjangkau. Namun ketika di tempat lain produk-produk promosi perusahaan komersial yang biasanya berupa pena, buku saku, dan pin, hadir sebagai media yang pada umumnya digunakan sebagai merchandise, para seniman sebenarnya dapat lebih kreatif d dalam hal memilih media atau presentasi yang tidak umum. Karya yang ditampilkan juga bisa saja tidak cuma menempel pada benda yang akan dijadikan merchandise, tapi merespons dan memanfaatkan hal-hal yang khas dari benda-benda tersebut. Dengan begitu, bisa saja karya yang dihasilkan akhirnya bukan hanya tempelan karya lama, tapi karya yang benar-benar baru karena hanya dibuat khusus untuk produk tersebut, dengan kemungkinan artistik yang lebih terbuka luas.


( dok. CUBATEES )

Kreativitas tersebut tentu diperlukan, terutama karena merchandise seniman sebaiknya juga hadir sebagai karya seni yang tidak hanya dapat dinilai dari segi promosi dan fungsi saja. Produk-produk ini tetaplah sebuah karya seni yang dihasilkan dari tangan seniman, yang dalam pembuatannya mempunyai proses kerja kreatif yang sejajar dengan karya-karya seni yang lain pada umumnya.

Sudah selayaknya pula kita memberikan apresiasi lebih pada karya-karya merchandise seniman dalam pameran ini karena beberapa dari mereka cukup intens dan fokus dalam menggarap merchandise-nya masing-masing sebagai sebuah karya seni, yang notabene bukan hanya sekadar media promosi belaka. Terima kasih untuk Tanda Matanya, teman-teman seniman.

 

( dok. Ika Vantiani )


( dok. Recycle Experience )


( dok. Jah Ipul )


( dok. KPK “Komunitas Pecinta Kertas ) 

D.R.I D.R.I D.R.I D.R.I

D.R.I

hammersonicmusicfestival \m/ hammersonicmusicfestival \m/ hammersonicmusicfestival \m/ hammersonicmusicfestival \m/ hammersonicmusicfestival \m/ hammersonicmusicfestival \m/ hammersonicmusicfestival \m/ hammersonicmusicfestival \m/

hammersonicmusicfestival \m/