Instagram

GRAFIS HURU-HARA HULU BALANG

KARYA MURNI TELAH TIADA, KARNA MURNI TELAH LULUS TERLEBIH DULU

oleh : M.Sigit Budi.S

(karya Angga Cipta #acipt-silkscreen)


Murni memang telah lulus dari kampus, namun dia tetap menjadi sebuah fenomena di kampus. Sama halnya dengan fenomena keberadaan para penggiat GRAFIS MURNI di Jurusan Seni Rupa UNJ, yang sampai saat ini masih berani bergerak secara kolektif dan mandiri. Keberadaan karya-karya grafis di dalam institusi memang selalu berhubungan dengan kegiatan satu tongkrongan, kebersamaan, pergerakan, kelompok, dan kolektif. Grafis murni di UNJ memang turun temurun selalu bergerak secara konstan, hal tersebut bukanlah tuntutan dari sebuah institusi, melainkan menjadi sebuah kesadaran, kesadaran akan sebuah karya seni, sebuah ungkapan ekspresi, sebuah media pembelajaran yang akan dikondisikan menjadi sebuah karya, karya personal, karya grup, ataupun sebuah karya kolaborasi. 


(karya “ROBOWOBO”-silkscreen)

KRAAN adalah sebuah komunitas grafis murni yang terdiri dari mahasiswa angkatan’99, yang telah berhasil mendominasi grafis di kampus di awal tahun 2000. Kegiatan mereka disupport oleh mendiang seniman grafis Sudaryono yang telah membantu KRAAN, baik dalam segi teknis, teori dan bantuan alat kerja, salah satunya seperti peminjaman alat cetak. Beberapa event besar pun telah diikuti, salah satunya adalah event Rekor MURI dengan rekor mencukil kayu terbesar dan yang selanjutnya akan dicetak dan dipamerkan di Pasar Seni (TIJA).

 

Kemudian GRABAH ( Grafis Bawah Tanah ), kelompok ini memang tidak lama bertahan di kampus, para pendirinya pun akhirnya merubah nama GRABAH menjadi PROPAGRAPHIC MOVEMENT, dengan harapan akan kegiatan grafis yang lebih baik dan selalu eksis di kampus dan diluar kampus. Harapan tersebut terbukti hingga saat ini, teman-teman propagraphic masih terus berkegiatan dan terus menyerukan pesan-pesan propaganda yang ada di dalam karya-karya grafis yang ditampilkan di setiap kegiatan mereka, baik aksi berkarya di jalan, event tertentu, maupun pameran. Para pendiri propagraphic pun hingga saat ini masih berkontribusi di setiap event dan project yang dilaksanakan oleh mereka lewat project HAH dan P.A.T


(karya ABSM-stencil)

GOGORIGO meneruskan tradisi grafis dengan sepulangnya mereka dari Jogjakarta. GOGORIGO adalah kelompok mahasiswa angkatan 2002, mereka belajar Etsa (etching) atau cetak dalam, di Jogja bersama komunitas Taring Padi. Kegiatan tersebut merupakan salah satu pilihan untuk mendalami satu bidang seni yang ada dalam rangkaian kegiatan KKL yang menjadi syarat kegiatan dari institusi. Sepulangnya dari Jogja mereka meneruskan kegiatan mereka dengan mengadakan pameran dan workshop secara mandiri untuk teman-teman seni rupa yang memang mau dan ingin mendalami karya grafis diluar cukil kayu dan cetak saring (sablon). Kegiatan tersebut pun dilakukan dalam rangka menyambut datangnya Mesin Cetak Grafis yang telah sekian lama diminta oleh teman-teman penggiat grafis di kampus.

 

PARTCRET adalah salah satu kelompok penggiat grafis yang lebih cenderung pada kegiatan grafis menggunakan sablon stiker dengan isu-isu yang sangat sederhana masalah lingkungan di kampus. Mereka adalah kelompok mahasiswa angkatan 2003, kegiatan mereka diantaranya adalah berkarya untuk dipamerkan di dalam kampus, baik mading jurusan, jendela jurusan, ataupun media baligho dan tembok-tembok di kampus. Kelompok ini hadir sebagai sebuah angin segar keberadaan seni grafis di kampus. Mereka membuat karya grafis tanpa ada tujuan untuk apapun, semua dilakukan hanya sekedar untuk mencukil, mencetak, dan menempel. Satu kata untuk PARTCRET, “liar”.

(karya dari dado-wacky - stencil and woodcut)

CARTERPAPER dibuat oleh kelompok mahasiswa angkatan 2005, kelompok ini melihat kegunaan dari stencil art, dan photocopy art menjadi bentukan lain yang akan mereka tampilkan untuk karya-karya mereka. Mereka memang tidak menyebut kelompok mereka sebagai kelompok grafis, dikarenakan kegiatan berkarya mereka yang masih melibatkan grafis murni  itu sendiri lah yang mengakibatkan mereka ikut berkontribusi  di dalam kegiatan grafis di kampus. Sebut saja karya-karya stensil dan fotokopi mereka yang sempat tersebar di mana-mana. Sesuai dengan nama mereka yaitu carterpaper, yaitu kater (cutter) dan kertas, pekerjaan yang mereka lakukan memang selalu berhubungan dengan ke dua benda tersebut, kater dan kertas.

 

SEHAT BERGAIRAH GRAFIS MURNI adalah bentukan kelompok secara kolektif yang dibentuk atas dasar kecenderungan karya grafis cukil kayu. Kelompok ini terbentuk dari beberapa mahasiswa yang berbeda angkatan di jurusan seni rupa. Apa yang mereka lakukan hingga saat ini meliputi pameran, diskusi, mengikuti event-event komunitas, dan workshop. Kegiatan mereka pun dilakukan di dalam kampus hingga luar kampus, bahkan hingga ke luar kota sekalipun. Kontribusi mereka untuk grafis murni UNJ semakin menguatkan jajaran kelompok-kelompok penggiat grafis yang sampai sekarang terbukti masih terus menunjukkan eksitensinya dalam berkarya grafis. Fokus mereka terhadap grafis itu sendiri ditunjukkan dengan adanya program-program dan project pameran yang mereka buat dan hasilkan.


(karya dari DHIGEL - woodcut)

GARIS KERAS DAN SPIK LALA merupakan kolaborasi gabungan dari dua kelompok yang sebelumnya berbeda, namun pada akhirnya  selalu bekerja bersama-sama dalam berkarya di setiap kegiatan. Mereka adalah kelompok mahasiswa angkatan 2006, mereka bergerak disetiap event yang ada, semangat yang mereka tampilkan benar-benar membawa gairah kembali untuk grafis murni di kampus. Beberapa kali karya yang mereka buat secara mandiri maupun event telah diberitakan di media cetak, dikarenakan unsur politis pada karya mereka yang sangat kuat yang mereka tampilkan disetiap kali ada kegiatan berkarya bersama-sama. Kegiatan mereka lebih banyak dilakukan di jalan-jalan, baik itu medium poster dengan sablon dan cukil kayu, atau media stensil sekalipun, hingga media fotokopi.

 

Pada kegiatan kali ini, kumpulan mahasiswa dan alumni seni rupa kembali mengadakan sebuah pameran yang bertajuk GRAFIS HURU HARA. Kegiatan ini mungkin menjadi salah satu kegiatan kompilasi para penggiat grafis yang sudah saya jabarkan sebelumnya. Pada kegiatan ini, para individu-individu di tiap-tiap kelompok grafis yang sudah memberikan kontribusi sebelumnya, kembali berkumpul di sebuah event Pameran. Kegiatan ini memang bukan hanya sebuah pameran karya grafis, melainkan bentuk silaturahmi kembali para penggiat grafis yang sudah tidak lagi berada di kampus, maupun teman-teman yang masih bergerak di dalam kampus. Karya-karya yang dihasilkan nanti selain hasil cetakannya akan dipamerkan, hasil cetakan tersebut pun akan dijadikan sebuah katalog pameran, yang isinya adalah murni hasil dari cetakan atau penggandaan karya mereka. Karya Grafis adalah sebuah cetakan, karya grafis dibuat untuk dapat menduplikat atau menggandakan karya masternya, grafis penuh dengan bahan kimia yang tidak sedap, proses pembuatan grafis sangatlah rumit, proses pembuatan grafis pun sangatlah kotor, selalu meninggalkan noda dimana-mana, tetapi karya grafis yang terbentuk, haruslah bersih.

 

SELAMAT BERKUMPUL KEMBALI TEMAN-TEMAN, SALAM :)



 

.. another my scanography artworks in this gloomy night .. .. another my scanography artworks in this gloomy night .. .. another my scanography artworks in this gloomy night ..

.. another my scanography artworks in this gloomy night ..

TUTU SPLIT

it8bit:

True Love - by Brother Brain 
Super Mario World (SNES) Nintendo 1991.

(via: brotherbrain)

HAK ASASI MANUSIA DI DINDING KOTA

tulisan ini dibuat sebagai review P.A.T untuk di tampilkan di website milik GRAFIS SOSIAL di http://grafisosial.org/hak-asasi-manusia-di-dinding-kota/

Terima Kasih GRAFIS SOSIAL (Mas Adit dkk)


HAK ASASI MANUSIA DI DINDING KOTA

Project Akhir Tahun atau PAT adalah sebuah kegiatan berkarya seni di ruang publik pada malam pergantian tahun. Kegiatan ini bermula semenjak akhir tahun 2004 dimulai oleh tiga perupa kelompok Propagraphic Movement dari Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yaitu RM.Herwibowo (Robowobo), Arif Widiarso (Atto), dan Arief Rachman (Arman). Mereka memulai kegiatan ini dengan tiga buah karya poster yang dicetak manual dengan cetak saring atau sablon. Ketiga perupa dengan tiga ide itulah awal PAT. 

PAT Pertama di akhir 2003 jelang 2004

Pada malam pergantian 2011 menuju 2012 yang lalu, Propagraphic Movement kembali mengadakan PAT. Kegiatan yang berpusat di tembok flyover Slipi-Petamburan, Jakarta Barat dilakukan secara bersama oleh para street artistdari Jakarta, Depok, dan Tangerang. Tim Propagraphic Movement lebih dulu mengadakan diskusi kecil untuk mencari tema yang akan divisualisasikan dalam PAT 2011, hingga akhirnya terpilih tema Hak Asasi Manusia (Human Rights). Tema ini dipilih mengingat banyaknya kasus pelanggaran HAM di Indonesia, bahkan beberapa kasus belum terpecahkan. Diharapkan melalui PAT dapat menjadi karya penyadaran atau bentuk protes yang dapat mengingatkan siapapun yang melihatnya.

Setelah berjalan 7 tahun, PAT menjadi ajang kreasi sekaligus silaturahmi bagi para street artist dari berbagai wilayah. Melalui kegiatan ini dapat dicermati bagaimana pola kerja para street artist dan jejaringnya pada saat berkarya di ruang publik. Media Penyebaran informasi melalui jejaring media sosial seperti facebook dantwitter mempermudah para seniman untuk sesegera mungkin menginformasikan kegiatan di jalan, dan sesegera pula berkumpul di satu titik.

Karya PAT 2003 jelang 2004 oleh GARIS KERAS dan SPEAK LALA

Kegiatan berkesenian di dinding kota seringkali di kaitkan dengan kota New York. Kota riuh di Amerika Serikat ini dahulu sering menjadi medan pertempuran antar-kelompok pemuda. Masing-masing wilayah selalu ditandai dengan berbagai macam atribut dan tanda oleh si penguasa teritori tersebut. Salah satu bentuk penandaan yang dilakukan adalah melalui grafitiBerbagai karya pun bermunculan di dinding-dinding kota seperti poster, wheatpaste, stensil, dan mural, yang selain digunakan oleh para street artist sebagai penanda, juga sebagai bentuk ekspresi dan media perkenalan diri ke publik.

Karya-karya di ruang publik di Indonesia saat ini masih beragam, tidak sepenuhnya berupa karya-karya visual bertema kritik sosial atau hal-hal yang bermanfaat bagi warga. Beberapa street artist masih menampilkan bentuk visual berupa identitas personal atau kelompok di tembok kota – sebuah bentuk karya yang sekedar menghias, atau bahkan menyampah secara visual. Sesungguhnya karya yang tampil di ruang publik bukan milik perorangan, karena akses untuk menikmati dan melihat karya tersebut dimilik oleh semua orang yang melintasi di ruang tersebut. Kepentingan warga harus diperhatikan oleh para street artist dalam berkarya di ruang-ruang publik, sehingga tidak menjadi sampah visual yang mengganggu warga.

Kerja kolektif oleh para penggiat seni jalanan kini makin terstruktur. Para seniman tidak hanya berkarya, mereka juga mengumpulkan data street artist yang ada di Indonesia melalui organisasi Indonesian Street Art Database(http://award.indonesianstreetartdatabase.org/). Kerja keras para penggiat seni di ruang publik perlu diapresiasi layaknya karya seni dalam sebuah galeri komersial. Karena itu Pemda sebaiknya tidak memberi ijin pemasangan iklan di tembok-tembok kota yang biasa dipakai para street artist berkarya. Karya-karya street artist di ruang publik lebih mendidik daripada iklan-iklan komersial tersebut. Bahkan dari sisi konsumtivisme, iklan komersial adalah sampah visual. Berbagai informasi, berbagai isu sosial-politik, dalam bentuk mural dapat dinikmati warga – sebagaimana warga kota membaca headline surat kabar. Street art adalah hak asasi manusia, karena dia adalah sebuah media ekspresi dari warga untuk warga, tentang warga. 

*) M.Sigit Budi S. adalah Seniman dan Peneliti di Serrum (twitter: @mSigitBudiS)

PAT 2011 di Jembatan layang Slipi: karya Ami Simonyet Bali

PAT 2011 di Jembatan layang Slipi: Amy Simonyet Bali (kiri), Ari dan Atto – Propagraphic (tengah), Kuas&Roll (kanan)

PAT 2011 di Jembatan layang Slipi: Karya Kuas&Roll

PAT 2011 di Jembatan layang Slipi: Karya Arman – Propagraphic

PAT 2011 di Jembatan layang Slipi: Jeanny – Propagraphic

PAT 2011 di Jembatan layang Slipi: Ronald – Propagraphic

PAT 2011 di Jembatan layang Slipi: Karya Tas-Tas Crew


Final Year Project, or better known as P.A.T (Project Akhir Tahun). This is an art project in the streets by making various kinds of propaganda art works like murals, graffiti, posters, wheat paste, stencil, sticker, or performance art in a welcoming new year. The theme is usually critical of the issue or phenomenon that is happening in people’s lives.

The theme used at this time PAT is Human Rights, where participants create art works of propaganda and awareness to the public about human rights, criticized the human rights issue that occurred in Indonesia.

VILLAGE VIDEO FESTIVAL @jatiwangi art factory VILLAGE VIDEO FESTIVAL @jatiwangi art factory VILLAGE VIDEO FESTIVAL @jatiwangi art factory VILLAGE VIDEO FESTIVAL @jatiwangi art factory VILLAGE VIDEO FESTIVAL @jatiwangi art factory

VILLAGE VIDEO FESTIVAL @jatiwangi art factory

L.O.V.E

c h e e r s s s :)

.. “SERRUM EXHIBITION DISPLAY ORGANIZER” .. 
 @MUSEUM NASIONAL - with GOETHE INSTITUTE #Jerman Untuk Pemula .. “SERRUM EXHIBITION DISPLAY ORGANIZER” .. 
 @MUSEUM NASIONAL - with GOETHE INSTITUTE #Jerman Untuk Pemula .. “SERRUM EXHIBITION DISPLAY ORGANIZER” .. 
 @MUSEUM NASIONAL - with GOETHE INSTITUTE #Jerman Untuk Pemula .. “SERRUM EXHIBITION DISPLAY ORGANIZER” .. 
 @MUSEUM NASIONAL - with GOETHE INSTITUTE #Jerman Untuk Pemula .. “SERRUM EXHIBITION DISPLAY ORGANIZER” .. 
 @MUSEUM NASIONAL - with GOETHE INSTITUTE #Jerman Untuk Pemula .. “SERRUM EXHIBITION DISPLAY ORGANIZER” .. 
 @MUSEUM NASIONAL - with GOETHE INSTITUTE #Jerman Untuk Pemula .. “SERRUM EXHIBITION DISPLAY ORGANIZER” .. 
 @MUSEUM NASIONAL - with GOETHE INSTITUTE #Jerman Untuk Pemula

.. “SERRUM EXHIBITION DISPLAY ORGANIZER” .. 

 @MUSEUM NASIONAL - with GOETHE INSTITUTE #Jerman Untuk Pemula