Instagram

OLEH-OLEH DARI TEMAN SENIMAN

(DOK.TANDAMATA A MERCHANDISE PROJECT @ruru galeri 2012)

OLEH-OLEH DARI TEMAN SENIMAN

Oleh: M. Sigit Budi. S

 

Suvenir dapat berupa benda yang bentuk dan kondisinya beragam. Benda tersebut biasanya dicari seseorang apabila sedang berkunjung ke lokasi tertentu, di sebuah kota maupun negara. Benda-benda tersebutlah yang biasanya dapat merepresentasikan daerah kunjungan. Ketika Anda pergi ke pecinan, yang biasa dijumpai adalah barang-barang yang identik dengan warna merah. Ketika teman saya berkunjung ke Vietnam, suvenir yang saya terima adalah kaos merah bergambar bintang kuning yang sangat mencolok. Kaos tersebut banyak dijual di sana, dan banyak pula wisatawan yang membelinya sebagai oleh-oleh untuk dibagi-bagikan kepada keluarga, teman, atau kolega mereka di negara asalnya.


(dok.P.A.L.U )


Suvenir, yang biasa disebut juga sebagai cinderamata, jelas bukan makanan. Apabila kita berkunjung ke Cirebon, Anda bisa saja membeli aneka jajanan yang berasal dari udang, yang memang dapat Anda beli untuk oleh-oleh. Namun selendang batik bermotif mega mendung umpamanya, sebagai suvenir, tentu akan dapat lebih dikenang sebagai buah pemberian seseorang. Makanan memang enak dan mengenyangkan, namun akan langsung habis begitu dimakan. Ia jadi tidak dapat dikenang, yang ada hanya kenyang.

Lain suvenir, lain merchandise yang berarti barang dagangan. Banyak yang mengira bahwa kedua kata ini mempunyai arti yang sama, sama-sama diperjualbelikan, dan dapat pula menjadi barang pemberian. Sebenarnya untuk merchandise, produk-produk yang diperjual-belikan adalah produk yang ditujukan untuk kepentingan promosi. Sebuah suvenir dapat saja berupa pasir yang diambil gratisan dari pantai Kuta, Bali, tetapi suatu merchandise grup musik yang ternama di Bali tentu harus dibayar dengan harga yang tertera.

(dok.kamengski)

Tak berbeda dengan kelompok musik, para seniman-seniman muda di Jakarta, yang beberapa di antaranya mempunyai latar belakang sebagai pelaku street artist, selain berkarya di medium dan medianya masing-masing, mereka juga membuat merchandise, yang biasa disebut sebagai “artist merchandise”. Produk-produk mereka bisa berupa kaos, stiker, poster, emblem, gantungan kunci, hingga tas.

Merchandise seniman menjadi hal yang menarik karena setiap seniman, grup, maupun komunitas mempunyai model desain merchandise yang unik. Dalam satu jenis aplikasi yang sama seperti kaos saja, desain yang ada bisa sangat beragam dalam jumlah produksi yang terbatas. Pada akhirnya, si merchandise seniman ini pun tak hanya dapat berfungsi sebagai alat promosi, melainkan sebagai sebuah karya seni yang memang layak dimiliki sebagai bentuk koleksi ataupun apresiasi.

( dok. GARDU HOUSE )

Beberapa merchandise seniman yang ada kini sangat mudah ditemukan di berbagai acara kegiatan pameran, musik, diskusi, atau peluncuran buku. Penjualan merchandise ini pun cukup menghibur pengunjung karena biasanya merchandise buatan seniman lebih menarik dan berbeda dibandingkan produk merchandise pada umumnya. Bila mencermati beberapa karya merchandise seniman seperti karya milik Jah Ipul dan Kamengski dari Jakarta, misalnya, Anda akan melihat karya-karya kolase yang berasal dari ilustrasi buku mengenai tafsir mimpi, togel, hingga beberapa majalah dan surat kabar. Gabungan dari beberapa sumber tersebut kemudian digabung dan diacak menjadi sebuah karya kolase yang tak biasa, yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk poster dan kartu pos.

Merchandise seniman bisa berbentuk sebuah karya yang baru atau duplikasi dari karya yang sudah ada. Hal ini tentu berguna untuk promosi karya seorang seniman. Dengan begitu, ia jadi dapat mengaplikasikan karya seninya dalam jumlah yang lebih banyak, dan tentunya dengan harga terjangkau. Namun ketika di tempat lain produk-produk promosi perusahaan komersial yang biasanya berupa pena, buku saku, dan pin, hadir sebagai media yang pada umumnya digunakan sebagai merchandise, para seniman sebenarnya dapat lebih kreatif d dalam hal memilih media atau presentasi yang tidak umum. Karya yang ditampilkan juga bisa saja tidak cuma menempel pada benda yang akan dijadikan merchandise, tapi merespons dan memanfaatkan hal-hal yang khas dari benda-benda tersebut. Dengan begitu, bisa saja karya yang dihasilkan akhirnya bukan hanya tempelan karya lama, tapi karya yang benar-benar baru karena hanya dibuat khusus untuk produk tersebut, dengan kemungkinan artistik yang lebih terbuka luas.


( dok. CUBATEES )

Kreativitas tersebut tentu diperlukan, terutama karena merchandise seniman sebaiknya juga hadir sebagai karya seni yang tidak hanya dapat dinilai dari segi promosi dan fungsi saja. Produk-produk ini tetaplah sebuah karya seni yang dihasilkan dari tangan seniman, yang dalam pembuatannya mempunyai proses kerja kreatif yang sejajar dengan karya-karya seni yang lain pada umumnya.

Sudah selayaknya pula kita memberikan apresiasi lebih pada karya-karya merchandise seniman dalam pameran ini karena beberapa dari mereka cukup intens dan fokus dalam menggarap merchandise-nya masing-masing sebagai sebuah karya seni, yang notabene bukan hanya sekadar media promosi belaka. Terima kasih untuk Tanda Matanya, teman-teman seniman.

 

( dok. Ika Vantiani )


( dok. Recycle Experience )


( dok. Jah Ipul )


( dok. KPK “Komunitas Pecinta Kertas )